Semaju apa pun teknologi di muka bumi, tidak ada yang bisa mencegah kejadian itu. Bencana alam yang sangat mematikan.
Judul buku : HUJAN
Penulis : Tere Liye
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : Januari 2016. cetakan kedua puluh sembilan, Juni 2018
Tebal buku: 320Hlm,20cm
Harga buku:20.000
Sinopsis :
Tentang persahabatan, tentang cinta.
Tentang perpisahan, tentang melupakan, tentang hujan.
Kelebihan Novel :
Materi bahasa didalam novel ini cukup riWwwngan dan mudah dipahami. Meski halamannya cukup tebal Namun dalam novel ini segala sesuatunya terasa pas. Alurnya tidak membosankan dan sudah sesuai dengan jalan cerita, tidak terasa di panjang-panjangkan atau dilambat-lambatkan. Bahkan di beberapa bagian ada yang dipercepat ceritanya. Jalan ceritanya senfiri tidak bisa ditebak sama sekali.
Banyak kejutan-kejutan yang terjadi dalam novel ini dan tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Misalnya adanya musim dingin berkepanjangan akibat efek gunung meletus. Kemudian karena campur tangan manusia, musim dingin ini berubah menjadi musim panas yang akhirnya menjadi malapetaka. Musim panas terjadi tanpa tahu kapan berakhirnya. Hujan juga tidak lagi turun ke bumi. Hal-hal seperti ini membuat imajinasi pembaca melambung tinggi.
Belum lagi dengan kecanggihan teknologi yang bisa membuat anting-anting sebagai pemandu online, sistem transportasi tanpa supir, alat komunikasi yang tertanam di tangan dan sebagainya. Semuanya terasa nyata dan pasti bisa terjadi di masa depan.
Kekurangan Novel:
Menurut saya, tokoh Lail dalam novel ini karakternya kurang kuat. Dia hanya seorang gadis lemah, cengeng dan tidak mempunyai inisiatif apa-apa. Keberhasilannya dalam berbagai hal di dalam cerita karena ajakan dari temannya Maryam. Tanpa Maryam, Lail tak akan bisa meraih apapun. Seharusnya sebagai tokoh utama, Tere Liye menempatkan Lail sebagai inisiator bukan tokoh yang mengikuti apapun kemauan temannya walaupun itu hasilnya baik juga.
Beberapa bagian dalam novel ini menyatakan kalimat “secanggih-canggihnya teknologi, tidak ada yang dapat menandingi kekuasaan Tuhan”. Hal itu dipahami oleh semua orang di dalam cerita. Namun demikian entah kenapa Tere Liye tidak menempatkan para tokoh di dalamnya untuk berdoa dan beribadah. Tidak ada satupun bahasan agama didalam novel ini, semuanya hanya membicarakan ilmu pengetahuan dan teknologi. Mulai dari awal hingga akhir halaman, saya bertanya-tanya kira-kira agama para tokoh ini apa za?, ini terasa janggal sekali bagi saya.
Beberapa typo juga saya temui dalam novel
[Review Novel] Summer in Seoul
Judul Buku : Musim Panas Di Korea
Penulis : Ilana Tan
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2006. Cetakan ke-30, April 2018
Jumlah Halaman: 280 Halaman
Pengarang Mega-Bastseller
Harga Buku :
Sinopsis:
Jung Tae-Woo — penyanyi muda terkenal Seoul yang muncul kembali setelah empat tahun melarikan diri dari dunia hiburan. 'Aku hanya ingin memintamu berfoto denganku sebagai pacarku,' kata Jung Tae-Woo pada gadis di hadapannya. Sandy alias Han Soon-Hee — gadis blasteran Indonesia-Korea yang sudah menerima Jung Tae-Woo sejak awal, namun sedikit pun tidak melihatnya. Sandy mengangkat dan menatap laki-laki itu, lalu berkata, 'membantah, asalkan wajahku tidak terlihat. Awalnya Jung Tae-Woo tidak curiga Kenapa Sandy langsung menerima tawarannya. Sementara Sandy hanya bisa berharap ia tidak akan menyesali keputusannya yang melibatkan Jung Tae-Woo. Hari-hari musim panas sebagai 'kekasih' Jung Tae-Woo dimulai. Perubahan rasa itu pun ada. Namun demikian, kisah sukses tahun lalu sedang mengejar mereka.
Kelebihan Novel:
ini adalah dapat membuat pembacanya nyaman dari bacaan beberapa kalimat pertama, serta gaya bahasanya yang menarik dapat membangkitkan inat pembaca. Beberapa kata asing yang tidak ketahui pun dapat dilihat artinya dari catatan yang terdapat di novel. Bahkan, dengan tema menarik untuk remaja, yang terkadang berimajinasi, seakan-akan ikut terbawa suasana.
Kekurangan N ovel:
Kekurangan novel ini adalah penyelesaiannya kurang terselesaikan dengan baik, dan kurang terciptanya suasana kota Seoul yang merupakan latar tempat utama dari cerita ini.
[Riview Novel ] arok dedes
Judul buku : AROK DEDES
Pengarang :Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Lentera Dipantara
Tahun Terbit : Cetakan I tahun 1999
Cetakan VI Tahun 2009 Kota Terbit : Jakarta
Jumlah halaman : 561
Harga : Rp. 80.500
Sinopsis:
Arok Dedes, adalah roman yang menolak seluruh dongengan dan mistika yang menyelimuti cerita dimana nyaris seluruh daya-sadar masyarakat Indonesia pernah menaggapnya karena masuk dalam silabus buku-buku sejarah diniyah. Di tangan Pram (sapaan akrab Pramodya Ananta Toer), sejarah awal abad 13 itu, seluruh mistika yang menyertai jatuhnya Tumapel, dicerbut, ditelanjangi, dibersihkan. Dari yang irasional (kutukan keris Empu Gandring tujuh turunan) diluruhkan. Dan berubahlah cerita Arok-Dedes yang terkenal itu menjadi cerita politik yang menggetarkan sekaligus mendebarkan. Ini roman politik seutuhnya.
Berkisah tentang kudeta pertama yang terjadi di bumi Nusantara, kudeta ala Jawa. Kudeta yang merangkak dari bawah menggunakan banyak tangan untuk kemudian memukul habis dan mengambil bagian kekuasaan sepenuh-penuhnya. Kudeta licik namun cerdik. Kudeta berdarah-darah, tapi para pembunuh yang sejati bertepuk dada dan mendapatkan penghormatan setinggi-tingginya.
Pada tahun 1215, Temu seorang bocah berumur belasan, dikemudian hari dikenal dengan nama Arok, telah mengorganisir perlawanan secara tidak sadar terhadap Tunggul Ametung Akuwu Tumapel. Dalam waktu lima tahun ia telah menjadi pemuda berumur duapuluh tahun, tlah menjelma menjadi seorang taktikus perang cerdik yang mengubah cara berperang gaya Hindu di Jawa, ia juga menjadi seorang polotikus dan juga negarawan dengan gayanya sendiri.
Melibatkan gerakan militer (Gerakan Empu Gandring), menyebarkan syak wasangka dari dalam bilik agung Tunggul Ametung. Tak ada kawan maupun lawan, yang ada hanya kegelisahan akan siapa yang dapat Tunggul Ametung percayai. Mengorganisir paramiliter (begundal-begundal dan jajaro), dan memperpanas perkubuan. Aktor-aktornya bermain bekerja seperti hantu. Kalaupun gerakannya diketahui, namun tiada bukti yang sahih bagi penguasa (Akuwu Tunggul Ametung dan para Patih-Patihnya) untuk dapat menyingkirkannya.
Arok adalah simbol dari gabungan antara mesin paramiliter licik dan politisi sipil yang cerdik-rakus (dari kalangan sudra/agrari yang merangkakkan nasib menjadi penguasa tunggal tanah Jawa). Mula-mula, didekatinya para intelektual dan kaum moralis (brahmana) untuk mendapatkan legitimasi bahwa usaha kudetanya legal. Karena betapa pun kekuasaan politik, selaluh butuh legitimasi - baik legitimasi agama (sesembahan dewa-dewi) maupun legitimasi sejarah dan identitas (kekastaan, asal-usul).
Arok mendapatkan semua legitimasi itu untuk mengukuhkan diri sebagai penyelamat rakyat dari politik yang dijalankan oleh orde Tunggul Ametung secara sewenang-wenang. Arok juga menggunakan jalinan kisah cintanya bersama paramesywari Tumapel (Dedes) untuk memuluskan jalannya menuju tampuk kekuasaan. Arok tak mesti memperlihatkan tangannya yang berlumuran darah mengiringi jatuhnya Tunggul Ametung di Bilik Agung Tumapel, karena politik tak selalu identik dengan perang terbuka. Politik adalah permainan catur diatas papan bidak yang butuh kejelian, pancingan, ketegaan melemparkan umpan-umpan untuk mendapatkan peruntungan besar. Tak ada kawan maupun lawan, yang ada hanyalah tujuan akhir: puncak dari kekuasaan itu sendiri; tahta dimana hasrat bisa diletupkan sejadi-jadi yang diinginkan.
Pada akhirnya roman Arok Dedes menggambarkan peta kudeta politik yang kompleks yang “disumbang” Jawa untuk Indonesia.
Kelebihan Novel:
Bagi para pemerhati cerita-cerita dongengan tanah Jawa, namun kurang begitu percaya dengan ha-hal yang berbau irasional buku ini cukup menarik untuk dikupas. Karena Pramoedya dapat memberikan kita “sesuatu” yang berbeda dan belum pernah kita fikirkan sebelumnya. Tentang keadaan yang belum terbayangkan, peta perpolitikan yang sering terjadi dewasa ini, jauh sebelum Indonesia merdeka bahkan bayang-bayang sebuah Majelis Permusyawaratan Rakyat belum terbesit, ternyata sudah pernah dialami oleh “embrio” bangsa ini. Memang politik tak selalu ramah bagi pemeluknya, seringkali kita terdorong untuk selalu berada didepan mengalahkan yang lain. Namun tanpa disadari langkah kita tak jarang mengusik jejak orang lain dan itu pun di halalkan demi satu kata; pemimpin tertinggi. Inilah potret bangsa Indonesia pada abad ke 13 jauh sebelum mengenal gaya berpolitik era ordev lama, orde baru, dan pasca reformasi sekarang ini.
Kekurangan Novel :
Pengemasan ulang kisah Arok-Dedes dan disuguhkan dalam bentuk yang jauh berbeda dari yang biasa kita dengar, tentu saja mengakibatkan beberapa dampak negatif bahkan mengakibatkan pergeseran budaya untuk kalangan tertentu. Dengan rasionalisasi tentu saja akan menghasilkan pola pemikiran yang berbeda pula pada kalangan masyarakat dalam memaknai kisah Arok-Dedes ataupun keris empu gadring yang dulu dikenal “angker” dengan kutukan tujuh turunannya akan menjadi biasa saja. Bermula dari kisah ini, kemudian orang akan mencari “hal baru” untuk memuaskan hasrat tentang kisah-kisah sejarah yang menurut mereka irasonal agar menjadi rasional. Lalu terkikisnya warisan budaya Indonesia dalam bentuk cerita-cerita adat, asal muasal suatu tampat tentu saja tidak bisa terelakkan lagi, semuanya akan menjadi semu, bahkan kelabu lalu terbang seperti abu meninggalkan tempat asalnya. Saat sesuatu yang irasional sudah tidak lagi diindahkan, upacara adat pun akan menjadi korban, karena sering kali upacara adat “menentang” hal-hal yang berbunyi rasional. Mudah-mudahan ini hanya analisa yang berlebihan dari penulis, karena bagaimanapun juga penulis yakin bahwa Pramoedya tidak sedikitpun berfikir ke arah itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar